13 September 2009

Bercermin pada Sistem Pendidikan di Jepang

Pesatnya perkembangan teknologi dan industri di negeri matahari terbit, sudah tak bisa disangkal lagi.

Berbagai negara berdatangan hendak mencontoh kesuksesan sistem pendidikan yang selama ini dikembangkan di negeri ini. Catatan performa para siswa Jepang terutama dalam bidang matematika dan ilmu alam selama dua dekade terakhir senantiasa menjadi tolok ukur kesuksesan itu.

Namun sebetulnya dibalik kesuksesan itu, Jepang sendiri sempat mengalami kekurangpuasan dengan sistem pendidikan yang mereka miliki, khususnya antara tahun 1980an sampai sekitar tahun 1990an. Akibatnya, kementrian pendidikan berupaya melakukan serangkaian reformasi yang berpengaruh pada kebijakan-kebijakan pendidikan yang berkembang saat ini. Meski begitu, kebijakan-kebijakan atas reformasi itu sendiri masih sering menjadi bahan perdebatan di kalangan para stakeholder dan pemerhati pendidikan.

Menurut catatan Christopher Bjork dan Ryoko Tsuneyoshi, berbagai penelitian yang dipublikasi selama periode dua dekade dari abad ke 20 banyak mengetengahkan isu komparatif guna mengetahui kelebihan dan kekurangan sistem pendidikan di Jepang dibanding dengan negara-negara yang lain. Hasilnya secara umum hanya menggarisbawahi aspek-aspek yang unggul dari sistem pendidikan tersebut, misalnya dasar yang kuat yang ditanam pada para siswa untuk bidang studi matematika dan ilmu pasti, komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik, keselarasan hubungan antara pengajar dan peserta didik, serta budaya pengajaran yang sarat perencanaan dan implementasi yang matang.

Seiring dengan melimpahnya kekaguman berbagai bangsa luar, termasuk Indonesia atas sistem yang dikembangkan tersebut berbagai perdebatan seputar hakikat dan tujuan sistem itu beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya mewarnai dinamika pendidikan di negara ini.

Perdebatan ini banyak terjadi antara mereka yang tamat dari sekolah-sekolah dalam negeri dan mereka yang tamat dari luar negara. Selain itu, selama bertahun-tahun sistem pendidikan di negeri sakura ini dinilai terlalu kaku dalam mengaplikasikan ujian masuk bagi para calon siswa baru serta semata-mata menekankan kemampuan ingatan terhadap fakta-fakta yang ada.

Fenomena inilah yang kemudian menggugah kementrian pendidikan, budaya, olahraga, ilmu pengetahuan serta teknologi (MEXT) untuk memelopori “Yutori Kyoiku”, suatu reformasi pendidikan guna meredam intensitas tersebut.

Namun demikian, aplikasi pada reformasi ini bukannya membuat perdebatan reda, tetapi justru menyulut berbagai percikan kritikan baru. Di satu pihak, ada yang berupaya mengembalikan sistem pendidikan Jepang pada agenda awal dengan mengembalikan fungsi kurikulum secara penuh. Di lain pihak ada yang bersikukuh mendorong Jepang makin meningkatkan standar akademik, seiring dengan pengembangan program “Super Science” untuk siswa-siswi sekolah lanjutan atas, yang notebene untuk mereka dengan kemampuan di atas rata-rata.

Kecenderungan sosial akademik ini tidak bisa dibendung dan sejumlah sekolah lokal mengembangkan kebijakan orientasi pada pasar (market-oriented policies) seperti misalnya berlomba-lomba untuk menjadi sekolah pilihan.

Berbagai perdebatan yang muncul tersebut seakan-akan mempertanyakan sistem pendidikan yang sedang berkembang di Jepang saat itu, bahkan ada beberapa dari mereka berpendapat bahwa sistem pendidikan Jepang saat itu ada dalam suatu titik genting. Di tengah-tengah tantangan untuk mengurangi beban tekanan akademis bagi para siswa, pengembangan motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis ada sejalan dengan upaya untuk membekali para siswa pada kemampuan-kemampuan akademik dasar.

Para pendidik pun disibukkan untuk menggali berbagai pendekatan yang sekiranya tidak hanya bisa menjawab pertanyaan para stakeholder tersebut, namun juga bisa tetap berada pada jalur kurikulum yang telah mereka sepakati.

Perkembangan dalam sistem pendidikan Jepang modern, yang sebetulnya sudah dimulai semenjak akhir Perang Dunia II membawa berbagai dampak dalam kehidupan masyarakatnya. Seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi negara ini, memungkinkan hampir seratus persen warganya bisa mengenyam pendidikan dasar dan tercatat 90 persen dari orang muda Jepang berkesempatan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan menengah atas.

Disinilah fenomena ujian masuk menjadi suatu mekanisme utama guna menyalurkan para siswa muda tersebut. Namun karena tidak semua siswa berhasil, baik itu berhasil menjadi siswa dari sekolah yang mereka impikan atau bahkan berhasil untuk lulus ujian masuk sekalipun, maka “Yutori Kyoiku” mulai dicetuskan terlebih guna membuat para siswa lebih rileks menjalani proses pembelajaran yang selama ini mereka alami.

Kemudian kurikulum 2002 disahkan menjadi kurikulum nasional yang telah direvisi dari kurikulum sebelumnya serta disesuaikan dengan semangat “Yutori Kyoiku”. Muatan pada kurikulum itu sendiri dikurangi hingga 30 persen. Ini berpengaruh pada jumlah jam tatap muka guru dan siswa, termasuk untuk bidang studi matematika dan IPA dari 175 jam di tahun 1977 menjadi 150 jam di tahun 1998. Kebijakan ini selanjutnya mempengaruhi juga hari efektif sekolah yang berkurang dari 6 hari menjadi 5 hari.

“Yutori Kyouiku” juga memberi kesempatan bagi siswa kelas 3 sekolah dasar sampai dengan kelas 12 sekolah lanjutan untuk mengalami proses belajar di luar kelas, melalui program yang dikenal sebagai program terpadu (sogotekina gakushu). Tujuan utama program ini memberi kesempatan para siswa untuk belajar mandiri serta berpikir kritis.

Nilai hasil belajar tinggi yang mereka peroleh di kelas akan menjadi mubazir apabila mereka tidak bisa menterjemahkannya dalam lingkungan sosial mereka sehari-hari. Oleh sebab itu, atas kerjasama dengan pemerintah, sekolah dan dengan berbagai perusahan serta lembaga setempat, anak-anak sekolah dalam waktu-waktu tertentu dilibatkan dalam proses produksi suatu usaha atau layanan jasa. Melalui keterlibatan tersebut, siswa diminta untuk melakukan observasi dan terbuka dengan berbagai pertanyaan kritis. Hasil penelitian itu selanjutnya akan mereka catat dan presentasikan sebagai kesimpulan dari proses belajar.

Poin yang ingin digarisbawahi melalui program ini, bahwa proses belajar tidak hanya terbatas dalam lingkup sekolah saja. Memang sekolah diakui sebagai tempat pertama pengembangan aspek kognitif siswa, namun lingkungan di luar sekolah pun sama pentingnya, terutama sebagai ajang pembelajaran dan pengembangan aspek psikomotorik serta afektif mereka. Kesinambungan antar semua proses belajar ini akan membawa para siswa untuk memiliki “kemampuan baru” dan hal ini oleh kementrian pendidikan dijadikan batu pijakan reformasinya menuju suatu visi pendidikan ke depan.

Prinsip ini berusaha menjawab permasalahan yang dikritik sebelumnya tentang superioritas sekolah yang terlalu besar serta kaku. Sebelumnya pendekatan tradisional sekolah inilah yang disinyalir membuat para siswa pasif dengan lebih menekankan kemampuan siswa untuk mengingat fakta daripada membimbing mereka untuk berpikir serta berkreasi.

Apakah reformasi pendidikan di negeri asal Mushashi ini bisa berlangsung dengan lancar? Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa berbagai perdebatan sengit muncul seiring dengan diterapkannya kebijakan baru ini. Beberapa pihak mengkritik hasil ujian Matematika dan Ilmu Alam menurun sejak dibuatnya program yang membuat siswa lebih rileks dalam menjalani proses pendidikannya dan ini dinilai sebagai suatu kemunduran. Namun MEXT sendiri menanggapi bahwa fenomena hasil itu bukanlah suatu kemunduran tapi refleksi terhadap suatu proses.
Lebih lanjut beberapa ahli yang mendukung ide pendidikan liberal, berpendapat bahwa perdebatan terhadap krisis pendidikan adalah suatu reaksi kegelisahan sementara, yang secara kebetulan disulut oleh munculnya berbagai kesulitan dan stagnasi ekonomi global saat ini. Selain itu munculnya rasa kurang percaya diri mereka pada sistem politik national dan kekawatiran terhadap moral anak muda Jepang juga menjadi tren berbagai masalah sosial belakangan ini. Oleh karena itu, sekolah sangat diharapkan mampu mengembangkan pola berpikir kritis ini, yang dalam prakteknya tidak dipisahkan dari proses belajar secara keseluruhan itu sendiri.

Para pengajar dan orang tua pun mengalami dampak langsung dari aplikasi “Yutori Kyoiku” ini. Banyak staf pengajar juga awalnya cukup kelimpungan dengan sistem baru ini. Selain karena sistem ini seakan memutarbalikkan haluan yang selama ini sudah mereka telusuri secara nyaman, tuntutan pengembangan pola berpikir kritis menjadi tugas baru yang besar, di luar tugas utama mereka untuk tetap menjadikan para siswanya mahir dalam kemampuan pendidikan dasar.

Namun sebagian besar dari para pengajar ini mensyukuri kehadiran sistem baru ini beserta metode terpadunya karena mereka melihat para murid menjadi lebih termotivasi dengan apa yang ingin mereka tekuni. Lebih lanjut, para pengajar pun punya kesempatan lebih luas untuk mendalami konsep-konsep mengajar dengan adanya pengurangan waktu tatap muka tersebut.

Lalu bagaimana dengan pandangan orang tua? Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan MEXT pada tahun 2003, diketahui bahwa hanya sebagian dari orang tua yang menyadari keberadaan sistem yang baru ini, namun kebanyakan dari mereka belum mengenal baik spesifikasi pada reformasi sistem ini. Mungkin hanya sekitar 20 persen dari mereka yang sudah mencermati dan mengerti sampai pada tujuan diterapkannya sistem ini. Akan tetapi bagi para orang tua yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, keberadaan sistem ini akan membuat mereka lebih nyaman untuk membawa serta anak-anak ke tempat mereka bertugas, karena tuntuntan sekolah setempat tidak lagi seketat dan sekaku sebelumnya.

Akhir kata, sistem pendidikan Jepang modern yang dimulai setelah perang dunia II ini memang dirancang untuk sebuah negara dengan perkembangan modernisme yang tinggi. Selama ini sistem pendidikan di Jepang dianggap sukses dan efesien dalam mengajarkan para siswanya dan menjadikan mereka berprestasi, namun semua itu ternyata belum cukup. MEXT dan para ahli pendidikan jaman ini menegaskan apabila pendidikan hanya ditekankan guna menyiapkan siswanya untuk duduk pada ujian masuk, ditambah dengan beban sejumlah besar muatan kurikulumnya akan menumpulkan minat belajar mereka. Untuk menjawab tantangan ini, berbagai upaya guna penerapan pola berpikir kritis, aplikasi pengetahuan pada kehidupan nyata serta metode “hands-on learning” menjadi tren yang baru di negeri ini.

Di balik semua itu apa hikmah yang bisa kita ambil buat sistem pendidikan di negara kita? Memang sistem pendidikan di negara kita mungkin tidak sekaku apa yang terjadi di Jepang, tapi bagaimana dengan konsistensi, efisiensi dan efektifitas dari proses itu sendiri? Ini tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi para penulis kebijakan, tapi juga semua aspek termasuk guru dan orang tua siswa. Walau lain lubuk memang lain belalangnya, namun semoga informasi ini bisa menggugah semua pihak yang berkecimpung atau tertarik dengan sistem pendidikan nasional Indonesia.

Sumber : KOMPAS.com

SMK sebagai Pusat Pelatihan Keterampilan Terpadu

Pada era sekarang, keterampilan telah menjadi satu poin khusus bagi setiap orang agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Setiap orang harus mempunyai keterampilan khusus jika menginginkan pola hidup yang lebih baik daripada yang lainnya.

SMK sebagai Pusat Pelatihan Keterampilan Terpadu

Keterampilan inilah yang selanjutnya menjadi brandingself setiap orang. Brandingself ini merupakan satu upaya untuk pencitraan diri sehingga menjadi satu pengakuan resmi bagi eksistensi dalam kehidupan. Dan selanjutnya, brandingself menjadi perhitungan atau pertimbangan khusus terkait dengan pemanfaatan sumber daya manusia, yaitu di lapangan pekerjaan.

Dengan brandingself yang dimiliki, maka anak mempunyai bekal sesuai dengan bidang keahliannya. Hal ini sangat penting mengingat pada jaman sekarang ini keterampilan atau brandingself menjadi nilai jual seseorang dalam dunia kerja. Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang membutuhkan keterampilan sehingga setiap orang harus mampu menjawab, artinya seseorang harus mempunyai bekal yang mampu menyelesaikan setiap masalah hidup, khususnya terkait dengan pekerjaan. Setidaknya, seseorang harus berketerampilan agar dapat melakukan kegiatan terkait dengan pekerjaan. Keterampilan diartikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul dalam kehidupan.

Pekerjaan menjadi salah satu acuan yang dijadikan landasan seseorang untuk hidup lebih baik. Bahkan untuk sekedar survival, maka seseorang harus mempunyai pekerjaan. Dengan pekerjaan, maka seseorang memperoleh income yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai modal untuk ‘menjalankan’ roda kehidupan. Kita membutuhkan banyak hal untuk hidup, berarti kita membutuhkan dana agar kebutuhan dapat terpenuhi. Dan, dana tersebut hanya dapat diperoleh jika kita bekerja.

Oleh karena itulah, maka pada saat sekarang ini orangtua cenderung mengirimkan anak-anaknya ke sekolah kejuruan atau ke tempat-tempat pelatihan yang diharapkan dapat menambah bekal keterampilan. Orangtua menyadari bahwa kebutuhan tenaga kerja pada saat ini hanyalah bagi mereka yang terampil, bahkan sejak dulu keterampilan ini merupakan bekal utama seseorang untuk dapat melakukan pekerjaan. Oleh karena itulah, maka sejak kecil, anak-anak selalu diarahkan untuk melakukan berbagai kegiatan hidup sehingga terampil dan mampu menyelesaikan setiap permasalahan hidup. Dengan keterampilan tersebut, maka tumbuh kemampuan untuk survival dalam kehidupannya.

Dalam menghadapi konsep dan persepsi orangtua yang cenderung pada konsep praktis, dimana kebutuhan keterampilan merupakan harapan utama, maka sekolah kejuruan sebagai penyelenggara pendidikan dan sekaligus keterampilan, perlu meningkatkan proses sehingga terjadi perimbangan proses dan kebutuhan masyarakat. Sekolah tidak dapat mengabaikan kebutuhan masyarakat sebab masyarakat adalah konsumen utama hasil proses pendidikan dan pembelajaran. Kebutuhan masyarakat adalah hal utama dari orientasi proses yang dilaksanakan oleh sekolah. Tanpa masyarakat, orangtua anak didik, tentunya eksistensi sekolah hanyalah sebuah foto yang dipajang didinding yang hanya enak dipandang dan sama sekali tidak memberi manfaat praktisnya.

SMK adalah Sekolah Kejuruan, Keterampilan Khusus

Pada dasarnya sekolah sebagai penyelenggara proses pendidikan dan pembelajaran mencoba untuk memberikan hal terbaik bagi anak-anak didiknya. Berbagai cara dilakukan agar anak didik benar-benar mempunyai bekal hidup yang dapat membuat mereka survival. Selama ini yang terjadi adalah anak-anak yang tidak mampu berkiprah untuk kehidupannya karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk hal tersebut. Anak-anak lulus dan menamatkan proses belajarnya tetapi ternyata secara teknis tidak mempunyai keterampilan yang memadai.

Dan, kita sangat menyadari bahwa selama ini yang terjadi justru kebalikan dari keinginan bersama. Anak-anak yang sudah menyelesaikan masa pembelajarannya ternyata tidak mempunyai kemampuan untuk menghadapi hidup. Mereka justru menjadi kelompok orang yang terpinggirkan sebab mereka tergolong orang berpendidikan tetapi tidak mampu hidup dengan pendidikannya tersebut. Mereka menjadi pengangguran intelek, pengangguran terdidik dan hal tersebut sangat merendahkan nilai diri di pandangan masyarakat.

Masyarakat sekarang ini sudah mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi setiap program dan kegiatan yang mereka lakukan sehingga setiap keputusan yang dibuatnya pasti sudah melalui pertimbangan matang. Termasuk dalam hal ini pendidikan anak-anaknya. Mereka tidak hanya mengharapkan pemelajaraan sebatas perubahan pengetahuan dan tingkah laku, melainkan secara utuh pada tiga aspek dasar pendidikan, yaitu afektif, kognitif dan psikomotor. Dan, dari ketiga aspek tersebut, psikomotor diharapkan memperoleh jatah pembelajaran lebih dibandingkan aspek yang lainnya. Hidup sangat butuh keterampilan sebab setiap saat kita pasti menghadapi permasalahan dan untuk menyelesaikannya, maka kita harus mempunyai keterampilan khusus. Tanpa keterampilan, tentunya kita akan terpuruk dalam ketidakberdayaan. Kita bakal menjadi kelompok orang-orang yang pandai tetapi sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk hidup.

Dan, sekolah kejuruan menjadi pilihan hampir semua orangtua yang mengharapkan anak anaknya setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran dapat langsung bekerja. Para orangtua berharap anak-anaknya mendapatkan bekal keterampilan yang dapat dijadikan sebagai bekal hidupnya. Begitu sederhana pola pemikiran para orangtua. Asal anak-anaknya mempunyai keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja, maka orangtua sudah sangat bahagia.

Oleh karena itulah, maka SMK sebagai sekolah kejuruan memberikan pelayanan pendidikan khas, dimana pendidikan dan pembelajaran kejuruan menajdi skala prioritas dalam proses pembelajarannya. Anak didik diberikan proses pendidikan yang lebih menekankan pada pembekalan keterampilan aplikatif bagi kehidupan. Sekolah kejuruan memberikan pembelajaran kejuruan, keterampilan sesuai dengan program keahliannya. Dengan demikian, maka bekal anak didik benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

SMK adalah sekolah kejuruan, maka tentunya aspek kejuruan menjadi pertimbangan utama pada setiap penentuan kebijakan sehingga sekolah tidak menjadi institusi yang mengumbar program tanpa kenyataan. Aspek kejuruan menjadi citra utama bagi sekolah kejuruan dan kejuruan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah program keahlian yang secara jelas memberi satu bentuk kegiatan terkait dengan kejuruan tersebut.

Di dalam proses pendidikan dan pembelajaran yang dilaksanakan secara formal ini, SMK memberikan pembelajaran secara sistematis dan terstruktur sehingga peningkatan kemampuan anak didik adalah sesuai dengan kemampuan dasar yang dimilikinya. Dengan penyampaian materi pelajaran sesuai dengan kemampuan anak didik, maka penguasaan atas materi pelajaran, baik teori maupun praktik terjadi sedemikian rupa sehingga secara utuh dimiliki oleh anak didik.

Khususnya pada pembelajaran kejuruan atau keterampilan, sekolah memberikan-nya secara tersistem dan terpogram secara berurutan dari yang bersifat dasar, menengah dan lanjut serta pada akhirnya materi pembelajaran kejuruan yang diberikan adalah mahir. Pada tahun pertama anak didik diberikan pembelajaran dasar untuk kejuruan sehingga anak didik lebih mengenal segala hal terkait dengan materi kejuruan tersebut. Mulai dari konsep dasar hingga praktek dasarnya.

Pembelajaran di SMK memang berbeda dengan pembelajaran yang diterapkan di SMU atau sekolah umum. Di sekolah umum, anak didik diarahkan untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk pendidikan lebih lanjut, sementara di sekolah kejuruan, anak didik diarahkan pada dua jalan, yaitu pendidikan lebih lanjut atau menuju pada lapangan pekerjaan. Menempuh pendidikan di sekolah kejuruan sebenarnya sangatlah menguntungkan sebab ada dua kesempatan yang kita peroleh ketika kita menyelesaikan masa belajar, yaitu meneruskan pendidikan lebih lanjut atau langsung bekerja dengan berbekal keterampilan yang didapat dari proses pendidikan dan pembelajaran.

Terkait dengan hal tersebut, maka selanjutnya SMK menjadi satu acuan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjadi manusia pembangun bagi negeri yang besar ini. Kita menyadari bahwa hanya orang-orang yang mempunyai keterampilan yang dapat menjadi pembangun bagi negerinya. Khusunya negeri seperti Indonesia yang masih terus berjuang untuk membangun peradaban yang mendasarkan pada kemampuan anak bangsanya sendiri.

Sekolah kejuruan telah menjadi satu icon yang diharapkan dapat menjadi pensuplai tenaga kerja terbesar untuk pembangunan di negeri ini dan juga untuk kebutuhan tenaga kerja diluar negeri. Berbagai keterampilan harus dimiliki, dikuasai oleh para tenaga kerja jika ingin diterima dalam jajaran tenaga kerja di sebuah pabrik atau kantor. Tentunya dalam hal ini terkait dengan jenis pekerjaan yang harus ditangani oleh tenaga kerja bersangkutan. Semakin sulit pekerjaan, tentunya diperlukan tenaga kerja yang terampil dalam bidang keahlian tersebut.

Dan, SMK adalah sekolah kejuruan, maka merupakan satu konsekuensi logis jika di dalam proses pendidikan dan pembelajarannya harus memberikan pembelajaran kejuruan lebih banyak daripada materi pelajaran lainnya. Dan, pembelajaran kejuruan ini terutama ditekankan pada materi kejuruan atau keterampilan keahlian. Itulah brandingself dari sekolah kejuruan!

Perlu Kemitraan Sekolah Dengan Masyarakat.

Kemitraan didalam kehidupan merupakan satu keharusan yang tidak dapat diabaikan oleh semua orang. Hal ini mengacu pada konsep bahwa manusia bukanlah makhluk individu, melainkan makhluk sosial yang tentunya membutuhkan orang lain agar dapat hidup dengan sebaik-baiknya. Dan sebagai makhluk sosial, maka manusia tidak dapat terpisahkan dari manusia lainnya.

Hubungan antar manusia ini sedemikian pentingnya sehingga tumbuhlah satu bentuk interaksi yang saling menguntungkan di antara mereka yang berinteraksi, yaitu kemitraan. Kemitraan merupakan satu bentuk interaksi yang dalam hal ini kedua belah pihak berperan aktif untuk menumbuhkan dan meningkatkan kualitas hasil dari interaksi tersebut.

Sekolah sebagai institusi pendidikan dan pembelajaran yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk melakukan perubahan signifikan pada diri anak didik sehingga mempunyai kompetensi diri. Sementara, masyarakat adalah pihak yang secara langsung memanfaatkan hasil proses pendidikan dan pembelajaran untuk kebutuhan kehidupan manusia secara umum. Dengan demikian, maka terdapat link yang kuat antara keduanya. Link inilah yang selanjutnya menjadi satu pengikat untuk setiap kegiatan yang dilakukan bersama.

Selama ini link sekolah dengan masyarakat, khususnya dalam hal ini orangtua anak didik hanya bersifat antara produsen dengan konsumen. Sekolah sebagai produsen dan orangtua anak didik sebagai konsumen. Mereka belum terikat secara emosional terhadap proses pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah. Tidak heran jika ternyata ada permasalahan, maka yang menjadi kambing hitam adalah sekolah, khususnya guru. Guru selalu menjadi pihak yang disalahkan jika ternyata ada kegagalan di dalam proses pembelajaran dan justru hal tersebut datang dari orangtua anak didik. Padahal sebenarnya, orangtua juga mempunyai tugas dan kewajiban yang sama terhadap proses pendidikan dan pembelajaran anak-anak.

Tentunya jika hal seperti ini terus terjadi, maka proses pendidikan dan pembelajaran akan timpang. Proses pendidikan dan pembelajaran hanya berjalan dengan satu kakinya saja. Bahwa ada banyak pihak yang sebenarnya bertanggungjawab atas keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran, guru dan sekolah adalah salah satunya. Hal ini karena yang bergerak menangani secara langsung proses pendidikan dan pembelajaran adalah guru dan sekolah sehingga jika ada kegagalan atau hal negatif dalam proses pendidikan dan pembelajaran, tentunya dua pihak inilah yang paling bertanggungjawab. Tetapi, kesalahan memang selalu jatuh pada mereka yang melakukan kegiatan secara langsung, apalagi masyarakat adalah konsumen dan konsumen adalah raja, sehingga mareka bebas menilai dan tidak perlu instrospekdi pada kebeperanannya dalam kegiatan pembelajaran anak-anak. To mereka sudah membayar ke sekolah.

Hal seperti ini jelas tidak berimbang dan menyebabkan tidak stabilnya pola pemikiran guru, artinya guru yang sebenarnya sudah melaksanakan tugas secara ikhlas dan sepenuh hati bakal, tetapi menjadi tidak berimbang sebab tidak adanya rewward dari masyarakat atas segala usahanya. Para guru merasa tidak ada penghargaan yang sesuai dengan segala upaya yang sudah dilakukannya, bahkan yang ada justru punnishment yang memojokkannya sebagai pesakitan. Sungguh sangat mengecewakan. Tentunya mereka merasa tidak dianggap dalam segala pekerjaannya.

Jika hal seperti ini dibiarkan, tentunya institusi pendidikan dan pembelajaran bakal menjadi institusi yang berisi orang-orang yang penuh kecewa. Dan, orang-orang yang kecewa cenderung untuk tidak maksimal dalam bekerjanya. Jika para guru tidak bekerja secara maksimal, karena rasa kecewa yang menumpuk di dalam hati, tentunya hal tersebut secara signifikan menyebabkan penurunan kualitas hasil proses pembelajaran yang dijalankannya. Dan, selanjutnya berdampak pada mindset masyarakat terhadap instiusi sekolah secara umum.

Untuk mencegah hal tersebut jangan sampai terjadi, maka tidak dapat tidak harus ada interaksi intens antara sekolah dan masyarakat dalam bentuk kemitraan aktif. Secara aktif orangtua juga ikut mengawasi dan membimbing anak-anak di dalam proses pembelajarannya. Bukan berarti orangtua masuk kelingkungan sekolah untuk ikut secara aktif memberikan pembelajaran kepada anak-anak melainkan cukup secara aktif memantau perkembangan dan mendampingi anak-anaknya saat belajar di lingkungan keluarga atau di lingkungan masyarakat. Bagaimanapun waktu pendampingan dan pembimbingan belajar oleh guru hanyalah sebatas jam tujuh pagi hingga jam satu siang. Sangat terbatas dan diharapkan memberikan hasil maksimal. Walau sebenarnya para guru menyadari bahwa dilingkungan sekolah, anak-anak adalah tanggungjawab mereka untuk proses pendidikan dan pembelajarannya, bahkan tidak jarang saat di lingkungan masyarakat-pun jika mereka menemukan anak-anak yang melakukan tindakan salah, para guru masih memberikan bimbingan, memberikan nasihat agar anak didik tidak melakukan kesalahan tersebut. Hal ini secara otomatis muncul pada setiap guru karena sekali guru mendampingi anak didik, maka secara emosional bahkan psikis, mereka sudah terikat perjanjian hati untuk terus membimbing anak-anak sehingga anak-anak tidak melakukan kesalahan dalam hidupnya.

Pada sisi lainnya, sekolah kejuruan adalah sekolah keterampilan khusus yang didalam proses pendidikan dan pembelajarannya selain memberikan bekal pengetahuan dan nilai-nilai positif kehidupan, juga memberikan bekal keterampilan bagi anak didiknya. Oleh karena itulah, maka bentuk kemitraan yang dibangun sekolah dengan masyarakat tidak hanya terbatas pada proses donatur dana penyelenggaraan pendidiakn dan pembelajaran. Tetapi, lebih dari itu adalah perlu dibentuk kemitraan yang memungkinkan terjadinya simbiosis mutualisme antara sekolah dengan masyarakat. Simbiosis mutualisme terutama ditekankan pada pemanfaatan keterampilan khusus yang didapatkan anak didik dari proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Bentuk kemitraan yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kemitraan kerja. Sebagai institusi yang melaksanakan proses pembelajaran kejuruan, keterampilan, sudah pasti materi yang diberikan kepada anak didik adalah materi aplikatif. Materi aplikatif adalah materi yang diterapkan secara langsung di dalam kehidupan bermasyarakat. Materi aplikatif ini diberikan pada proses pembelajaran di bengkel sekolah dan isinya tidak lain adalah materi yang pada umumnya diterapkan di bengkel-bengkel masyarakat industri.

Dengan program dan proses pembelajaran seperti ini, sebenarnya anak didik adalah sumber daya manusia yang telah siap memasuki pangsa kerja dan beraktivitas secara ekonomis. Dalam konteks ini, maka perlu kemitraan kerja bagi anak didik dengan dunia industri. Setidaknya, dunia industri mengambil kesempatan dan juga memberi kesempatan kepada sekolah, khususnya anak didik untuk berperan aktif dalam pengerjaan barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan.

Dalam kemitraan ini diharapkan perusahaan, masyarakat mempercaya kan pekerjaan tekniknya ke sekolah, anak didik. Dengan cara seperti ini, maka sekolah, dalam hal ini anak didik memperoleh pekerjaan yang harus dikerjakan di bengkel sekolah. Anak-anak dapat mengerjakan pekerjaan pada saat proses pembelajaran teknik atau praktek. Job mereka adalah pekerjaan yang didapatkan dari masyarakat. Sekolah, guru hanya memberi dasar pekerjaan tetapi secara keseluruhan pekerjaan adalah dikerjakan oleh anak didik tersebut.

SMK sebagai Bengkel Masyarakat atau PPKT

Pada dasarnya proses pembelajaran di SMK ditekankan pada transfer of skill sehingga anak didik dapat berubah menjadi SDM yang mumpuni di bidang keahliannya. Khususnya di SMK kelompok teknologi dan industri, Skill merupakan trade mark, pencitraan yang harus diberikan pada anak didik agar benar-benar menguasai teknologi dan menerapkannya dalam kehidupan sebagai bekal survivsl of life nya.

Survival of life merupakan satu konsep penting untuk mempertahan -kan eksistensi diri, baik sebagai individual maupun sosial. Hal ini mengingat tingkat persaingan hidup semakin ketat sehingga setiap orang sebagai individu maupun sebagai makhluk social harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Dan, salah satu aspek yang dianggap dapat menjadi sarana untuk survival adalah skill, keterampilan. Manusia tanpa keterampilan adalah seperti boneka yang dijadikan permainan oleh siapapun dan riskan stiap saat. Oleh karena itulah, maka setiap orang harus membekali diri dengan keterampilan khusus, special skill atau spesific skill. Dengan keterampilan khusus ini, maka tingkat persaingan yang dihadapi menjadi lebih rendah, apalagi jika keterampilan tersebut tidak dikuasai sama sekali olah orang lain!

Bahwa setiap kegiatan hidup memang membutuhkan satu keterampilan sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan ketentuannya. Tanpa keterampilan tentunya seseorang akan kesulitan dan tersisihkan dari kompetisi. Setiap kesempatan terbuang sebab spesifikasi keahlian yang dibutuhkan untuk setiap kesempatan tidak dapat dipenuhi secara teknis. Mereka terbuang sebelum berkompetisi. Kalaupun sempat berkompetisi, mereka terlempar dan jatuh saat bersaing keterampilan teknis terkait dengan keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Kondisi ini tentunya sangat merugikan.

Dan, proses pembekalan keterampilan khusus seharusnya tidak hanya terbatas untuk mereka yang masih mengikuti proses pembelajaran di SMK. Justru, SMK seharusnya menjadi wahana bagi upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan peningkatan kompetensi keahlian sumber daya manusia yang dalam masa tunggu pekerjaan. SMK harus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pembekalan keterampilan aplikatif dengan nilai cost yang tidak terlalu membebani, jika perlu ditanggung oleh institusi-institusi pengembangan sumber daya manusia.

Pada umumnya, sarana pembelajaran di SMK, khususnya untuk pembelajaran pelatihan teknik sudah cukup memadai untuk kegiatan pelatihan sumber daya manusia (SDM). Dengan sarana tersebut, maka masyarakat dapat diberikan kesematan untuk mengikuti pelatihan khusus keahlian yang ada. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu adanya kerjasama secara intens antara sekolah dengan masyarakat. Kerjasama ini diwujudkan dalam suatu kemitraan program kegiatan. Sekolah menyediakan sarana prasarana serta instrukturnya dan masyarakat mendukung pembiayaannya. Masyarakat memikirkan dan mencarikan biaya kegiatan, walaupun diputuskan minimal. Atau jika memungkinkan institusi yang terkait dengan sumber daya manusia merencanakan program pelatihan yang sasarannya adalah anak-anak usia kerja tetapi belum mempunyai keterampilan khusus untuk bekerja.

Program kemitraan antara sekolah dengan masyarakat dalam hal ini adalah berbentuk pelatihan khusus program keahlian aplikatif. Peserta pelatihan yan berasal dari anak-anak usia kerja diberikan pelatihan dengan materi keahlian yang diperlukan. Dalam interval waktu yang disepakati, pelatihan keterampilan dilaksanakan secara intens dengan system learning by doing peserta pelatihan tidak terlalu banyak diberikan bekal teoritis, melainkan langsung mengerjakan barang-barang kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini pihak pelatih atau instruktur, penyelenggara harus secara aktif mencari dan mendapatkan pekerjaan bagi peserta pelatihan.

Program kemitraan ini menjadikan sekolah sebagai pusat pelatihan keterampilan terpadu sebab dalam hal ini ada kolaborasi aktif dari beberapa institusi terkait. Kolaborasi inilah yang selanjutnya diharapkan dapat menjadikan keberhasilan peserta pelatihan. Peserta pelatihan tidak hanya mendapatkan pengalaman, keterampilan tetapi juga follow up dari program. Hal ini karena selama proses pelatihan, pihak-pihak terkait membuka link dengan pihak terkait, terutama Dunia Usaha/ Dunia Industri (DU/DI).

Secara terbuka, SMK membuka kesempatan pada masyarakat untuk memanfaatkan segala fasilitas di sekolah untuk peningkatan keterampilan. Dengan cara seperti ini, maka eksistensi sekolah bukanlah sebagai ‘dunia tersendiri’ bagi masyarakat. Akan tumbuh dan berkembang suatu keterikatan dari masyarakat terhadap sekolah, begitu juga sebaliknya. Sekolah dan masyarakat menjadi satu kesatuan institusi yang integral dan sinergis serta mutualisme dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya.

Pada akhirnya, kita hanya berharap agar segala program, konsep yang dicanangkan adalah satu kesatuan visi untuk menjalankan misi pendidikan yang tidak hanya memberikan bekal pengetahuan dan nilai-nilai positif kehidupan, tetapi juga mampu memberi bekal keterampilan aplikatif untuk bekerja. Keterampilan aplikatif inilah yang selanjutnya diharapkan dapat menjadi satu brand individu dan selajutnya mengangkat brand sekolah di mata masyarakat. Bagaimana-pun eksistensi sekolah kejuruan sebagai institusi yang mengelola pendidikan kejuruan harus dipertahankan bahkan ditingkatkan sehingga sumber daya manusia yang selama ini selalu menjadi permasalahan akibat rendahya kualitas. Kita harus mengakui bahwa kualitas sumber daya manusia kita masih di bawah standar sehingga di dalam persaingan tenaga kerja sering kali kita tersisih.

Perbaikan kualitas sumber daya manusia secara intens dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang ditempuh adalah peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran yang bersentuhan langsung dengan pengelolaan tenaga kerja atau penggarapan sumber daya manusia. Dan, SMK adalah salah satu institusi pendidikan yang harus memanggul tugas peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut. SMK menjadi wahana bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan penerapan berbagai program yang secara langsung bersentuhan dengan kehidupan.

Dan, untuk kebutuhan tersebut, sekolah kejuruan harus memberikan kontribusi positif pada pengelolaan calon-calon sumber daya manusia yang benar-benar mempunyai kualifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri, baik lokal, regional maupun internasional. Selanjutnya hal tersebut merupakan pendorong pada penyediaan sumber daya manusia yang siap bersaing dalam dunia kerja.

Secara teknis, sekolah menyediakan sarana yang ada di dalam bengkel pembelajaranya untuk kebutuhan masyarakat. Begitu juga proses pembelajarannya yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan pelatihan keahlian. Masyarakat diberikan kesempatan untuk melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan peningkatan kualitas kompetensi dirinya. Masyarakat memanfaatkan segala alat dan bahan yang ada bengkel untuk melakukan pekerjaan yang diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dirinya tersebut.

Bahkan, masyarakat diberikan kesempatan untuk mencari barang-barang yang perlu dikerjakan di bengkel dengan kompetensi keahlian yang dilatihkan kepada mereka. Mereka melatih keterampilan, kompetensi dirinya dengan mengerjakan barang-barang yang rusak atau mungkin membuat barang-barang baru kebutuhan masyarakat lainnya. Barang-barang ini dapat dikategorikan pada barang-barang sederhana hingga barang-barang yang membutuhkan tingkat pengerjaan yang sulit. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan tingkat standar barang konsumsi dan bukan barang latihan bekerja.

Dengan memasang target sebagai barang konsumsi, maka terbangun sikap kerja, kinerja yang bagus di hati peserta pelatihan. Peserta pelatihan akan terangsang untuk melakukan kegiatan dengan standar kerja yang berlaku di dunia industri. Mereka melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati dan sesuai dengan tingkat kompetensi yang dimilikinya sehingga diharapkan hasilnya adalah maksimal. Jika peserta pelatihan di bengkel sekolah melaksanakan kegiatan dengan penuh semangat dan mengeksplorasi kompetensinya secara penuh, tentunya hasil yang diperoleh adalah maksimal. Hasilnya adalah yang terbaik dari kemampuan yang dapat dikerjakannya.

Demikianlah, peranan SMK di dalam kehidupan bermasyarakat, dimana dalam hal ini SMK dijadikan sebagai pusat pelatihan keterampilan terpadu (PPKT). Dengan demikian, maka sumber daya manusia (SDM) yang, mungkin belum terasah keterampilannya dapat meningkat dan selanjutnya mampu menjadi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam bidang keahliannya. Dan, semua itu tidak lepas dari kesadaran sekolah kejuruan untuk secara aktif ikut memikirkan solusi dari tertumpuknya tenaga kerja produktif tanpa pekerjaan. Bagaimanapun para pengangguran terdidik merupakan potensi terbesar bagi pembangunan negeri ini pada saat mendatang. Yang kita perlu lakukan hanyalah memoles mereka sedenikian rupa sehingga keterdidikan mereka tidak hanya pada pengetahuan dan pola nilai positif kehidupan, melainkan juga pada sisi keterampilannya.

Begitulah peranan SMK di dalam kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya merupakan satu bentuk kesadaran seutuhnya untuk menjaga keutuhan bangsa dan secara langsung adalah ikut berperan dalam pemberian bekal aplikatif bagi warga masyarakat sebagai sumber daya manusia (SDM) yang terpenting dalam kehidupan. Semoga harapan ini bukan sekedar fatamorgana di gurun yang tandus.

Oleh: Mohammad Saroni, Guru SMK Brawijaya Mojokerto
Mojokerto, Agustus 2009

06 September 2009

LINK SITUS PEMKAB TAPSEL

http://www.tapselkab.go.id/



HINDARI VIRUS, JANGAN BUKA SITUS PORNO

HINDARI VIRUS, JANGAN BUKA SITUS PORNO

Gaya hidup online diyakini menentukan ancaman masuknya virus dalam sistem personal komputer atau komputer jinjing seiring makin tingginya pemakaian internet oleh masyarakat.

Gaya hidup online diyakini menentukan ancaman masuknya virus dalam sistem personal komputer atau komputer jinjing seiring makin tingginya pemakaian internet oleh masyarakat.

"Apabila gaya hidup berinternet kita salah, potensi ancaman semakin berlipat," kata Technical Security Consultant ESET Indonesia, Yudhi Kukuh di Jakarta, sore ini.

Menurut dia, ancaman selalu mengincar situs dengan hit tinggi. Bahkan,"game online saat ini juga menjadi sasaran empuk untuk ancaman masuk. Untuk itu, masyarakat perlu memakai antivirus karena mereka bersentuhan dengan banyak data.

"Khususnya, bagi kalangan akademika kami sarankan menggunakan antivirus yang bisa melakukan real time scanning saat menggunakan USB dan memiliki kemampuan sistem yang dapat mendeteksi ancaman baru secara proaktif," ujarnya.

Ia menyatakan, kemampuan tersebut sangat penting untuk dimiliki oleh antivirus tertentu. Apalagi, komunitas kampus dan masyarakat pada umumnya banyak bersentuhan dengan warnet atau "Internet Cafe", hingga "free internet access" (wi-fi) dengan lalu lintas pemakaian internet yang tinggi.

"Kami berharap, dengan pemakaian antivirus yang benar dan tepat, maka potensi ancaman yang masuk dapat diminimalkan. Ingat, virus atau ancaman selalu mengincar.

Ia menyebutkan, perilaku berkomputer online yang benar, antara lain rajin mengup date sistem operasi, memastikan selalu terkoneksi dengan internet yang aman, tidak membuka situs yang berpotensi menghadirkan ancaman.

"Semisal, tidak membuka situs porno, menggunakan software dari sumber yang terpercaya, memakai password yang berbeda untuk setiap akun jangan mudah percaya terhadap informasi yang diterima via internet, tidak mengumbar informasi sensitif (personal) di internet, dan back up data," katanya.

Singkatnya, tambah dia, jika kemudahan dan kenyamanan berinternet tidak ingin terganggu, pengguna internet harus memiliki kebiasaan yang baik dan benar dalam memakai komputer. Mereka bisa memulainya dengan pemilihan sistem proteksi komputer atau antivirus yang baik.

"Kadang pemilihan hanya didasarkan pada harga murah semata atau tren yang tidak selalu benar," katanya.

Untuk menghindari hal tersebut, lanjut dia, perlu ada sosialisasi pemahaman teknologi antivirus. "Setelah memilih antivirus yang baik, pemakai komputer juga harus memiliki kebiasaan yang benar agar gaya hidup online mereka selalu aman dan nyaman," katanya.

LAPTOP LAYAR GANDA PERTAMA DI DUNIA SIAP MENGGEBRAK

LAPTOP LAYAR GANDA PERTAMA DI DUNIA SIAP MENGGEBRAK

Sebuah laptop inovasi baru dengan layar ganda diklaim sebagai yang pertama di dunia. Laptop ini dinamakan Spacebook, produksi dari perusahaan Amerika Serikat, gScreen.


Sebuah laptop inovasi baru dengan layar ganda diklaim sebagai yang pertama di dunia. Laptop ini dinamakan Spacebook, produksi dari perusahaan Amerika Serikat, gScreen.

Layar ganda tersebut antara lain ditujukan untuk memudahkan pengguna melakukan banyak tugas secara simultan. Spacebook dibekali dua layar masing-masing berukuran 15,4 Inch yang bisa digeser-geser dan ditumpuk untuk memudahkan mobilitas pemakai.

Gordon Stewart selaku pendiri gScreen menyatakan kalau Spacebook rencananya bakal dijual via toko online Amazon pada Desember 2009 nanti.

Laptop dua layar tersebut ternyata membidik pangsa pasar khusus seperti editor video profesional, fotografer dan desainer. Harganya terbilang 'aduhai', yakni di kisaran US$ 3000 atau sekitar Rp 30 juta.

Akan tetapi meski terkesan canggih, Spacebook jelas punya kelemahan. Layar gandanya membuat laptop ini lebih berat ketimbang laptop umumnya. Selain itu baterainya rentan habis menjalankan dua monitor sekaligus.

Dikutip detikINET dari Telegraph, Senin (31/8), sebelumnya memang sudah ada laptop dengan dua layar, namun layar kedua lebih kecil dibanding layar utama. Sedangkan Spacebook diyakini sebagai model laptop pertama dengan dua layar yang sama besarnya.

PROFESOR TERMUDA DI USA TERNYATA ORANG INDONESIA

PROFESOR TERMUDA DI USA TERNYATA ORANG INDONESIA

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya "pulang ke Jepang" untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Kenapa?

Profesor Termuda Di As Ternyata Orang Indonesia
Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai "The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award" mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk "pulang". Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia . Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore , gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk "cari makan".

SISWA/I BERPRESTASI SEMESTER GANJIL T.P 2011-2012

Peringatan Hari PGRI 25 Nopember 2011

Kunjungan Bupati Tapanuli Selatan

PROFIL 1