15 September 2010

Sarjana Rendah Hati Lebih Laris


Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Dunia usaha selalu membutuhkan orang-orang yang cerdas. Orang-orang cerdas bisa jadi berasal dari keluarga cerdas dan sekolah yang hebat. Seseorang mungkin berfikir bahwa sekolah yang hebat mampu menghasilkan siswa yang hebat atau cerdas karena sekolah tersebut memiliki standard disiplin yang tinggi, guru yang tegas, berwibawa dan mahal senyum, sementara fokus aktivitas siswanya adalah selalu belajar dan berlatih. Namun dalam kenyataan bahwa kondisi pembelajaran di sekolah yang hebat, bukanlah demikian (?).

Pengalaman saat mengunjungi sekolah- sekolah berkualitas- sekolah unggulan, dengan uang sekolahnya sangat mahal- dijumpai kondisi sekolahnya yang begitu harmonis dan damai, hubungan antara guru-siswa yang rileks, berinteraksi melalui bahasa yang lembut dan santun. Sementara staff dan kepala sekolah tidak pernah memperlihatkan karakter yang berlebihan- dingin dan arrogant. Sebaliknya ada sekolah yang dipromosikan sebagai sekolah- lembaga pendidikan yang berkualitas- menerapkan disiplin yang hebat- ketat dan kaku- dalam kenyataan populasi siswanya merosot terus.

Pemilihan ketua osis (organisasi intra sekolah) yang dicampuri oleh kekuasaan sekolah biasanya akan memilih ketua osis yang yang cerdas namun dipandang berkarakter arrogant dan suka mengatur oleh sebahagian anggotanya. Demilkian pula dalam pemilihan Kepala Desa, Wali Nagari, Bupati/ Wali Kota dan pemilihan Gubernur yang dipengaruhi oleh kekuatan dari atas biasanya juga akan memilih tokoh yang hebat dalam berpidato, namun berkarakter otoriter, arrogant dan suka mengatur. Sebaliknya pemilihan tokoh (ketua osis, Kepala Desa, Wali Nagari, Bupati/ Wali Kota dan Gubernur) yang dipilih oleh anggota/ rakyat, mereka akan memilih tokoh/ figure yang cerdas atau hebat namun rendah hati.

“Pilihlah orang yang cerdas dan rendah hati..!” Fenomena ini juga terjadi dalam dunia usaha/ dunia kerja: perusahaan swasta, dan BUMN. Ada salah seorang sarjana lulusan Universitas di daerah bisa memperoleh posisi pekerjaan di perusahaan yang bergengsi di ibu kota (Jakarta). “Mengapa anda bisa memperoleh pekerjaan dengan posisi yang bagus di metro politan dan mampu bersaing dengan lulusan dari perguruan hebat seperti UI, ITB, IPB, UNPAD, Gajah Mada, dan lain-lain ?” Dia menjawabnya bahwa keunggulannya yang dinyatakan selama wawancara- ia dinyatakan sebagai sarjana berkualitas yang rendah hati. Kalau ini menjadi fenomena maka sarjana cerdas namun berkarakter angkuh, arrogant, otoriter dan egoist akan tidak laku dalam dunia kerja. Namun apakah banyak mahasiswa dan para sarjana yang tahu dengan fenomena ini ? Bisa jadi “ya” dan bisa jadi “tidak”.

Sampai detik ini, cukup banyak orang tua yang memasung anak di rumah atas nama pendidikan atau kasih sayang. Mereka hanya memaksa dan memotivasi anak sekedar belajar dan mengikuti berbagai macam kursus mata pelajaran. Namun mereka tidak diberi pengalaman tentang kecakapan hidup- mengikuti kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan di luar rumah lainnya, karena dianggap sebagai buang-buang waktu dan mengganggu pelajaran. Pada akhirnya anak memang tumbuh jadi cerdas secara akademik namun mereka kurang memilki kepekaan sosial- cuek, acuh dan masa bodoh terhadap sesama.

Begitu pula dengan kodisi pembelajaran di banyak sekolah. Para guru mungkin sekedar mengejar pencapaian kurikulum. Menghardik, membentak dan mengancam agar siswa bisa tertib dan mengikuti disiplin. Ini merupakan suasana belajar dengan guru-guru yang bergaya otoriter. Dalam kenyataan bahwa gaya belajar yang memaksa, menggertak, mendikte, mengejek bisa berpotensi dalam mematikan motivasi dan semangat belajar anak didik.

Namun, saat sarjana cerdas yang rendah hati, menjadi fenomena di dunia. Orang cerdas yang rendah hati lebih disukai dari pada mereka yang cerdas namun sombong, arrogant, dan tinggi hati. Maka kini masyarakat- guru dan orang tua perlu untuk meresponnya dalam praktek edukasi di rumah dan di sekolah.

Program belajar yang diyakini bisa membuat anak bisa jadi cerdas namun rendah hati selalu diminati. Learning center yang bisa membantu anak jadi cerdas dan rendah hati juga menjadi ngetrend, walau biaya belajarnya mahal- selalu diserbu.

Ada learning center sebagai tempat belajar dan bermain, yang merancang program belajar dan bermain agar anak tumbuh cerdas dan peka terhadap sosial (www.playhousedisney-asia.com) menawarkan aktivitas seperti :let your preschooler get a headstart through fun learning in the world filled with discovery and imagination on play house, designed for kids- fun learning in a world. Tentu saja aktivitas ini berada di tempat belajar yang menyenangkan- membuat anak cerdas namun rendah hati- adalah dengan menyediakan sarana belajar dan bermain dalam kelompok teman sebaya. Di sana mereka ditemani oleh guru yang berkarakter penyayang- menyayangi dan membimbing anak-anak untuk melakukan discovery (penemuan).

Sarana belajar yang berorientasi discovery tidak perlu serba mahal. Sarana belajarnya bisa jadi berupa tanah, pasir, kerikil, rumput, serangga, hewan kecil, balok-balok, cangkul kecil, bangku kecil, pisau tumpul, dan lain-lain yang bisa digenggam oleh tangan kecil dan mengoperasikannya. Yang penting di sana tidak ada suasana menakutkan- gertakan, kemarahan guru/ orang tua, penekanan dan permusuhan. Namun yang ada musti suasana pencarian, kebersamaan, semangat eksplorasi yang diperkaya dengan pujian dan pompa semangat.

Mushola dan surau juga bisa menjadi learning center di daerah perumahaan- untuk menciptakan anak-anak yang cerdas dan rendah hati. Kegiatan didikan subuh, dimana ada anak yang bertanggung jawab sebagai protokol, pembaca do’a, pembaca ayat/ bacaan sholat, juz amma, zikir dan kultum (kuliah tujuh menit) yang mengkondisikan mereka tampil di depan sesamanya. Ini cukup ampuh untuk membuat mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi. Selanjutnya bahwa musholla dan surau juga bisa efektif sebagai learning centre untuk daerah perumahan apabila di sana juga ada kegiatan reading society, kesenian dan olah raga.

Kini apalagi ? Ya, orang tua yang berkarakter cerewet, pemarah, dan suka menekan dalam mendidik sudah tidak zamannya lagi. Juga sudah tidak zamannya lagi bagi guru yang cuma mendidik sekedar membayar tugas. Lebih peduli terhadap kerapian dan kelengkapan administrasi/ RPP namun tidak berkarakter kreatif dan inovatif sebagai seorang guru. Apalagi bila mereka miskin dengan pengalaman paedagogi, wawasan dan informasi, serta lfe skill.

How to do and what to do ? Sri wahyudi, salah seorang murid penulis ketika belajar di SMA, adalah cuma seorang anak pedagang es keliling yang selalu meningkatkan kualitas percaya diri. Ia ikut tampil dan ikut berbicara di depan teman-teman. Kesempatan seperti itu bisa meningkatkan rasa percaya diri. Di rumah ia juga ikut meringankan kerja orang tua. Ia juga ikut bergaul dan berinteraksi dengan anak-anak tetangga- berendam air, main lumpur, mencari serangga, mengembara di sawah, namun juga serius dalam belajar dan membaca. Ia mencoba untuk berdialog dengan banyak orang dan mengunjungi banyak tempat. Setelah tamat kuliah, maka ia menjadi sarjana yang rendah, mengikuti kompetisi bursa kerja dan segera mrmperoleh posisi kerja yang cukup punya gengsi.

Dari pengalaman hidup kita ketahui bahwa orang-orang cerdas yang rendah hati bukanlah orang yang memperoleh pendidikan secara karbitan. Namun mereka adalah orang yang tumbuh dari tempaan pengalaman hidup yang kaya variasinya. Mereka ikut bersosial, beribadah, meringankan beban hidup orang tua, peduli dengan aktivitas tetangga dan tidak gengsi gengsian dalam bekerja. Sarjana- orang cerdas- yang rendah hati adalah orang yang pas dengan karakter bangsa ini.

Ditulis dalam Artikel Pendidikan

12 September 2010

Setiap Guru Siap Menghadapi Perubahan Pola Pembelajaran Dengan Sistem E-Learning


Anak-anak kita, khususnya siswa SMK telah menjadikan internet sebagai bagian dari kehidupan kesehariannya. Pada SAP kurikulum 2004, terdapat mata diklat pengenalan internet yang mungkin saja dianggap sebagai hal yang baru. Namun justru dengan demikian, anak-anak kita akan lebih banyak belajar dari beberapa situs yang ada di dalamnya.

Misalnya saja ketika anak-anak kita tidak memahami bagaimana cara kerja mesin 2 tak yang diajarkan oleh gurunya, dia akan segera mencari informasi di dalam internet. Asalkan ada kemauan, hanya dengan mengetikan “mesin 2 tak” pada mesin pencari, maka sederetan judul artikel yang berkaitan dengan mesin tersebut akan dipampangkan. Maka dengan demikian, pengasaan informasi anak-anak kita akan lebih mendalam.

Lalu bagaimana dengan gurunya sendiri? bagaimana penguasaan teknologi informasinya? Dan bagaimana para guru menghadapi opini bahwa 90 % guru gagap teknologi ? Benarkah demikian ?

Kesemuanya mungkin menjadi PR kita bersama untuk menanggapi secara serius arti dari 90 % guru-guru adalah gagap teknologi. Karena jika benar demikian, alangkah menyakitkan. Sebab ditengah didengungkannya pembelajaran interaktif (e-learning) yang juga harus melibatkan guru-gurunya dalam bidang studi apapun, alangkah ironis kalau gurunya sendiri tidak pernah sedikitpun menjamah teknologi informasi tersebut.

Pembelajaran interaktif adalah ketika siswa sudah tidak lagi berasumsi guru sebagai satu-satunya sumber informasi (dan memang demikian). Karena toh siswa tersebut bisa belajar dengan beberapa modul yang ditawarkan untuk belajar mandiri di internet.

Lantas apa yang harus dilakukan adalah menanamkan arti pentingnya teknologi informasi dikalangan pendidikan khususnya para guru. Mahal memang, setidaknya karena beberapa kendala baik internal (karena kesibukan jam mengajar di berbagai tempat) maupun eksternal (seperti ketersediaan akses internet dan waktu pelatihannya sendiri). Namun demikian keharusan mendorong siswa kearah kreatif harus didukung oleh guru-gurunya sendiri. Untuk itu peranan para guru sangat dibutuhkan demi keseimbangan penguasaan dan pengemasan informasi yang bakal dihadapkan pada siswanya. Karena ada kemungkinan siswa telah memahami lebih jauh satu persoalan dari pada gurunya.

Kendala internal dan eksternal tersebut sebenarnya hanyalah sebuah “pembenaran” untuk tidak melakukan hal-hal yang dibutuhkan. Artinya, berpatokan pada peribahasa “dimana ada kemauan disitu ada jalan” kita memang harus mempersiapkan diri menyongsong era baru dalam berkomunikasi dengan berbagai informasi yang ada.

Menggagas kembali kata kunci dalam uraian ini yakni kegagapan para guru dalam teknologi informasi, nampaknya harus dibentuk satu kesepakatan yang diagendakan untuk sama-sama saling mengisi antara orang yang berkecimpung dalam dunia TI (guru KKPI) dan guru mata diklat lainnya dalam mengemas media pendidikan yang telah beralih formatnya kedalam media e-learning (komputerisasi).

Berangkat dari hal tersebut nampaknya kita harus ingat sebuah pesan Nabi Muhammad SAW “ Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan jamannya dan bukan jaman mu ”.

Semoga tulisan ini menjadi awal pencerahan baru bagi guru-guru dimanapun juga untuk turut mensukseskan dan mengarahkan anak-anak kita kedalam dunia nyata yang semakin kuat pergesekannya”

Pendidikan di Singapura Ditata seperti Sebuah Orkestra



APA yang diharapkan warga dari sebuah sistem pendidikan? Bagi orang awam sekalipun pasti tahu bahwa yang dibutuhkan adalah setidaknya kurikulum
yang baik, pengajar yang enak, fasilitas memadai, dan biaya murah, jika bisa.
Lalu selebihnya mungkin adalah lingkungan yang kondusif, daya saing yang
tinggi, serta segala aspek lain yang ada di luar ruang sekolah.

TAMPAKNYA hal itu tersedia di Singapura. Perbandingan sistem pendidikan
di Singapura dengan Indonesia seperti bumi dan langit rasanya. Departemen
Pendidikan Singapura (Ministry of Education) tampaknya lebih banyak
bekerja dan memberi perhatian besar pada pengembangan pendidikan ketimbang
memanfaatkan pendidikan sebagai sumber rezeki bagi oknum atau
pegawai-pegawai departemen itu.

Dari sekolah dasar hingga universitas, misalnya, siswa sudah dipantau
dan diarahkan untuk mendapatkan pendidikan yang cocok untuknya. Jadi, tidak
semua warga layak atau bebas masuk universitas di Singapura. Bagi mereka

yang tidak layak masuk universitas di Singapura, memang bebas memilih
kuliah di luar negeri sesuai dengan kemampuan orangtua, tetapi tidak bebas
masuk universitas di Singapura jika tidak melewati tes tertentu.

Dengan pendapatan per kapita lebih dari 24.000 dollar AS per tahun,
Singapura termasuk paling kaya di dunia. Namun, Singapura tidak
menyamaratakan bahwa semua warga pasti mampu. Biaya sekolah di Singapura
relatif murah. Yang diperlukan adalah biaya di luar uang sekolah seperti
penunjang kelancaran sekolah, transportasi, buku-buku, dan lainnya.
Untuk keluarga yang tidak mampu, pemerintah menyediakan beasiswa jika
perlu. Itu disediakan untuk memastikan bahwa kemiskinan bukan hambatan untuk
mengenyam pendidikan.

Meski mobil bukan persoalan bagi kebanyakan warga di Singapura, untuk
kelancaran transportasi anak-anaknya tersedia berbagai mode
transportasi, mulai dari MRT, dipadu dengan rangkaian bus kota yang memiliki akses ke
semua sekolah. Untuk transportasi ke dan dari Nanyang Technological
University (NTU), misalnya, tersedia berbagai jalur bus yang membelah
masuk ke kompleks universitas di Jurong.

Apa lagi? Ruang kelas, perpustakaan, kantin sekolah, dan tempat
bersantai juga tersedia. Ruang kelas ditata secara bersih dan membuat murid bisa
melihat guru atau dosen dan sebaliknya dosen atau guru bisa memantau
semua anak didiknya. Kelas diperlengkapi dengan peralatan yang memudahkan guru

melakukan presentasi lewat slide yang sudah melekat di setiap ruang
sekolah sehingga tidak perlu repot setiap kali melakukan presentasi. Janganlah
segan makan di kantin-kantin sekolah, jenisnya cukup banyak, relatif sehat,
dan murah lagi.

Akses internet hingga ke ruang-ruang kelas juga tersedia dan gratis
hanya dengan mendaftar untuk mendapatkan ID dari sekolah dan universitas. Hal
itu memang sengaja dilakukan untuk membuat murid memiliki akses yang mudah
mendapatkan informasi. Terkadang bahan pelajaran juga sudah dipajang di
situs internet yang membuat mahasiswa bisa mengakses secara on-line.

Dosen-dosen dan guru di Singapura juga tidak kalah profesionalnya.
Dengan gaji yang tergolong memadai, orang- orang terangsang menjadi guru. Tidak
semua guru berasal dari Singapura sendiri.

Dengan jumlah penduduk yang sedikit, hanya 4 juta jiwa lebih, Singapura
memerlukan pasokan guru. Untuk itu terkadang guru didatangkan dari
negara lain. Untuk level universitas, misalnya, NTU dan National University of
Singapore (NUS) tak segan menawarkan gaji yang tinggi menyamai gaji di
Harvard Business School. "Kami memang harus bersaing dan menawarkan
rangsangan yang lumayan untuk bisa menarik orang-orang yang punya
talenta dunia," demikian dosen di NTU, Ang Poo Wah.

Dosen-dosen di NTU, misalnya, tidak sedikit yang menjadi orang-orang
hebat di negara asalnya dan kemudian direkrut menjadi dosen di Singapura.

Masalahnya, Singapura berniat menjadikan dirinya sebagai pusat
pendidikan berkelas internasional, setelah berhasil menjadikan dirinya sebagai
pusat pe layanan kesehatan terbagus di Asia Tenggara.

Kegiatan di universitas dan di sekolah-sekolah bukan sebatas acara
belajar-mengajar rutin di ruang-ruang kelas. Hampir setiap bulan tampil
pembicara tamu berkaliber internasional membawakan topik-topik baru yang
ditemukan di dunia.

Pemerintah Singapura tidak segan-segan mendatangkan, misalnya, Michael
Porter, Philip Kottler, ahli manajemen terkenal di dunia, serta
dosen-dosen kaliber internasional yang memang mahal tarifnya tetapi Singapura tidak
pelit soal itu.

Jadi, selain mendapatkan ilmu, mahasiswa juga diberi pencerahan dengan
menghadiri seminar-seminar gratis tetapi sangat berkualitas. Jangan
bayangkan presentasi mereka seperti guru-guru atau dosen-dosen yang
direkrut begitu saja untuk jadi pengajar P4 yang membuat ngantuk di negara kita
pada zaman Orde Baru.

Gilanya lagi, sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan di Singapura
tidak berhenti melirik perkembangan pendidikan di negara lain. Maka,
muncullah misalnya aliansi antara sekolah bisnis di NTU dan Sloan School
of Management di Massachusetts Institute of Technology.

Aliansi seperti itu dibiarkan dirangsang sendiri oleh masing-masing
fakultas. Universitas hanya memberi persetujuan. Otonomi masing-masing
fakultas dibuat sedemikian tinggi dan dibiarkan mampu memikirkan
pengembangan diri sendiri. Soal pendanaan, tampaknya tidak menjadi
masalah. NTU, misalnya, sudah memiliki endowment fund dari pemerintah sebesar 200
juta dollar Singapura.

Maka, tidak heran jika NTU, NUS, dan Singapore Management University
dengan mudah membangun aliansi dengan Harvard University, Wharton School, dan
universitas kelas satu lainnya di AS. Kerja sama internasional
pendidikan juga dilakukan dengan banyak negara. Namun, kemajuan pendidikan di AS
membuat Singapura lebih berkiblat ke AS.

Mahasiswa di Singapura sering kali mendapatkan kesempatan untuk
melakukan studi tur dengan menjelajah dunia. Bagi mahasiswa yang mampu dibiarkan
membayar sendiri, tetapi dengan subsidi universitas. Namun, bagi yang
tidak mampu tersedia beasiswa yang memungkinkan mereka tinggal di hotel,
seperti JW Marriott. Bayangkan, misalnya, selama satu setengah bulan mahasiswa
pascasarjana di Nanyang MBA Fellowship Programme tinggal di apartemen
yang dikelola JW Marriott di Boston.

Jadi, persoalan bukanlah pada fasilitas dan beasiswa. Mahasiswa tinggal
menyediakan waktu dan niat untuk belajar tekun tanpa harus diganggu oleh
ketiadaan biaya.

Bukan hanya itu, Pemerintah Singapura tidak saja bersedia mendidik
warganya, tetapi juga bersedia merekrut calon-calon siswa dan mahasiswa dari
negara tetangga dan dengan beasiswa serta tawaran kesempatan kerja di
Singapura. Karena itu, tidak heran jika ada warga melayu dari Padang hingga Klaten
belajar di Singapura dengan bantuan, termasuk ongkos pesawat pergi
pulang saat liburan.

Singapura sadar akan potensi kekurangan tenaga kerja. Niat Singapura
untuk menawarkan beasiswa bukan sekadar menjadikan mereka sebagai tenaga di
Singapura suatu saat. Bagi mahasiswa yang kembali bekerja di negara
asalnya, setidaknya diharapkan bisa menjadi orang yang kenal dan sayang dengan
Singapura dan bisa menjadi jaringan Singapura di kemudian hari.

Bukan itu saja, dengan mengundang mahasiswa dari luar, Pemerintah
Singapura otomatis membuat warganya terbiasa bergaul secara internasional ketika
masih berada di sekolah. Itu sesuai dengan posisi Singapura sebagai hub
regional sehingga warganya tidak menjadi seperti katak di bawah tempurung.

Bicara soal silabus dan kurikulum, departemen pendidikan di Singapura
setiap kali bekerja untuk melakukan evaluasi. Setiap perkembangan baru selalu
disisipkan pada silabus baru.

Jadi, itulah pendidikan di Singapura, bukan sekadar menyediakan sarana
dan prasarana yang baik, tetapi terus melakukan up-dating dari tahun ke
tahun. Itu semua dilakukan sebagai pengejawantahan visi dan misi pendidikan di
Singapura.

Bukan itu saja, iklim persaingan di antara keluarga dan komunitas di
Singapura menjadi salah satu kunci rahasia sukses pendidikan di
Singapura. Bayangkan, orangtua, rekan, pasangan, atau pacar seperti "memaksa" siswa
dan mahasiswa untuk menjadi juara satu atau tidak sama sekali. Hanya ada
satu orang juara satu. Akan tetapi, dengan prinsip itu, semua orang berlomba
mendapatkan nilai terbaik dan tidak jarang sejumlah besar mahasiswa
sama-sama memiliki nilai A semuanya.

Apa sih kurangnya pendidikan di Singapura? Tidak ada jika dibandingkan
dengan pendidikan di Indonesia, misalnya. Yang mungkin masih kurang
adalah keberanian siswa dan mahasiswa berbicara di ruang kelas dan
mempertanyakan kebenaran sistem dari negara yang tidak begitu bebas. Mahasiswa
Singapura tidak begitu cerewet di kelas seperti masyarakatnya. Inilah yang
disadari oleh PM Lee Hsien Loong (BG Lee). Kebebasan berekspresi secara nasional
ala Singapura ternyata berdampak di kelas-kelas. Maka itu, kini BG Lee
menawarkan paradigma baru, yakni kebebasan bicara.

Soalnya, aneh memang jika di kelas pun mahasiswa harus ramah dan
menurut. Bukankah pendidikan bermaksud mencari kebenaran atas yang salah,
termasuk kediktatoran ala Singapura yang dimulai oleh mantan PM Lee Kuan Yew,
yang melarang oposisi berkoak-koak?

28 Juni 2010

Pembagian buku raport tgl 26 Juni 2010


Tak terasa tahun pelajaran 2009/2010 semester genap telah selesai dengan telah dibagikannya buku raport siswa kelas X dan XI program studi T-Audio Video, T-Mekanik Otomotif dan T-Pemesinan. Hasil rapat guru menyatakan bahwa ada 50 siswa yang tidak naik kelas. Ini membuktikan bahwa SMKN 1 Batang Angkola bukan sekedar mencari dan mengejar kuantitas tapi juga kualitas.
Kumpulan foto-foto peliputan acara penyerahan penghargaan bagi siswa berprestasi klik disini

Ucapan selamat ditujukan kepada mereka yang berprestasi dengan meraih ranking I, II dan III. Pertahankan!! Karena mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Bagi yang belum berkesempatan mendapat ranking I, II, III raih lah semester depan di kelas yang baru. Karena SMK BISA!

Dihimbau kepada siswa/i agar kembali ke sekolah tanggal 13 Juli 2010 untuk memulai tahun pelajaran baru yaitu 2010/2011.

Kumpulan foto-foto peliputan acara penyerahan penghargaan bagi siswa berprestasi klik disini

17 Juni 2010

Siaran Piala Dunia 2010 tanpa acak


Ada yang aneh dengan RCTI malam ini. Pertandingan Nigeria vs Greece (Yunani) di siarkan live tanpa acak video. Yang di acak cuma audio saja :-)
Pertandingan berakhir 2-1 untuk Yunani.

Mungkin pihak operator RCTI merasa sudah mengacak siaran secara keseluruhan tapi ternyata lupa mengacak bagian videonya :-D


RCTI, sering-sering aja lupa ya biar kami bisa menonton siaran fifa piala dunia 2010 dengan tenang tanpa lagi capek-capek nyari siaran luar negeri yang kadang dapat kadang tidak.

Salam olahraga.

16 Juni 2010

SMKN 1 BATANG ANGKOLA Meraih Juara II Lomba Cerdas Cermat se SLTA Tapsel tentang lalu lintas dan angkutan jalan


Juara I SMAN 1 Angkola Selatan atas nama Elmisari Siregar, Fitri Adelina Sihombing dan Rantika Harahap,
juara 11 SMKN I Batang Angkola atas nama Andi Susanto, Sudarsono dan Swartono,
juara III SMAN I Barteng atas nama Fatimah Sari Siregar, Hanni Hanidah Tanjung dan Jainal Suroh Siregar.


Satuan Lalulintas (Satlanast) Polres Tapanuli Selatan (Tapsel) menyelenggarakan lomba cerdas cermat tingkat SLTA diikuti 25 peserta dari 8 sekolah se-wilayah hukum Polres Tapsel, yang meliputi Kabupaten Tapsel, Paluta dan Palas mengenai UU No. 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.
Kasat Lantas Polres Tapsel, AKP Julianus Tarigan dalam sambutannva menjelaskan, tujuan dilaksanakannya lomba cerdas cermat tersebut adalah untuk mencari peserta terbaik yang akan menjadi perwakilan Polres Tapsel dalam lomba cerdas cermat tingkat Poldasu, yang digelar 8 Juni 2010, di Poldasu Medan.
Dengan cerdas cermat para siswa diharapkan dapat menyuarakan tertib berlalu lintas, dan UU No. 22 tahun 2009 kepada teman sekolah, dan lingkungan rumah dan dapat menjadi contoh berlalu lintas dengan baik dan benar, sekaligus akan dapat mewakili petugas Polantas menyampaikan sosialisasi UU No. 22 tahun 2009 kepada masyarakat, dan sebagai upaya Polres Tapsel untuk meminimalisir kecelakaan lalu lintas terhadap usia remaja Acara cerdas cermat berlangsung aman dan lancar dengan tim penilai Ipda Yuswanto SH, Aiptu H.TBP Aritonang SH, Brigadir Susanto dan Briptu Wiwik Lestari.

Acara diawali pengarahan oleh Kasat Lantas AKP Julianus Tarigan kepada seluruh peserta, dan diakhiri dengan penyerahan bingkisan oleh Kapolres Tapsel AKBP Subandrya SH, MH yang diwakili Kasat Lantas kepada para juara.

Seusai lomba cerdas cermat, AKP Julianus Tarigan mengatakan Polres Tapsel menggelar kampanye keselamatan tertib lalu lintas bagi 145 murid TK Kartika 1-49 di TK Kartika 1-49 Jalan Merdeka No. 2 Padangsidimpuan, yang bertujuan untuk pengenalan dan pemahaman rambu-rambu dan peraturan lalu lintas yang mudah dimengerti oleh siswa TK Kartika 1-49, sehingga dapat menanamkan disiplin berlalu lintas setelah nantinya jadi dewasa, untuk menumbuhkan kecintaan dan ketaatan serta tertib berlalu lintas terhadap anak TK. sebagai upaya meminimalisir kecelakaan lalu lintas.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam kampanye keselamatan tersebut, yaitu pengenalan rambu¬rambu lalu lintas, cara pemakaian helm yang benar dan sesuai SNI (Standar Nasienal Indonesia),

ADMIN

13 Juni 2010

STRUKTUR ORGANISASI SMKN 1 BATANG ANGKOLA (update)


NEW UPDATE

STRUKTUR ORGANISASI SMKN 1 BATANG ANGKOLA

KEPALA SEKOLAH
ADANAN HARAHAP,S.Pd
NIP 132 183 692

WAKIL BIDANG KESISWAAN
1. ABDUL HAMID,S.Pd
NIP. 131 401 668
2. MHD. ARIFIN,S.Pd
NIP. 400 064 853


WAKIL BIDANG KURIKULUM
1. SYARIFUL MAHYA,S.TP
NIP. 400 053 404
2. MUHAMMAD THOIB PRAWIRA, ST
NIP. 197801012009041002

WAKIL BIDANG SARANA PRASARANA
SORI MONANG SIREGAR, S.Pd
NIP. 400 059 056



KETUA PROGRAM STUDI :
1. TEKNIK MEKANIK OTOMOTIF (TMO) : DOROSLYN MAIJONES SIMAMORA, S.Pd
NIP.

2. TEKNIK AUDIO VIDEO (TAV) : KARIM AKMAL DALIMUNTHE, ST
NIP. 197511172009041002

3. TEKNIK PEMESINAN (TP) : FAISAL RANGKUTI, ST
NIP.

GURU – GURU :
1. MHD. ISA, S.Pd NIP. 131 252 465
2. AMRON AMAN, S.Pd NIP. 132 183 598
3. NIRMALA SARI, S.Pd NIP. 400 053 372
4. RAHMA NUDAWIYAH Srg, S.Pd NIP. 400 059 054
5. TATY HARYANTI, S.Ag NIP. 400 078 915
6. ROSMINA, S.Pd NIP. 400 089 891
7. PARIDAWATI NASUTION, S.Pd NIP. 400 090 302
8. EDI DARDI, S.Pd NIP. 400 090 458
9. DERFINA HEPPY, S.Pd NIP. 400 090 417
10. SALMAIYAH, S.Ag NIP. 400 090 276
11. NURAINI, S.Pd NIP. 400 090 234
12. LANNA HAIRANI, S.Pd NIP. 400 090 272
13. LENI MARLINA, S.Ag NIP. 400 090 301
14. LINDA NORA, S.Pd NIP. 400 090 275
15. AISYAH FITRI, S.Pd NIP. 198208052009042004
16. RIDUAN SALEH, S.Pd NIP. 198006172009041004
17. MURSIDA SIREGAR, S.Pd NIP. 197910122009042004
18. ELIDA HAFNI HARAHAP, S.Pd NIP. 198509242009042007
19. YULI SAFITRI SIREGAR, S.Pd NIP. 198407212009042005
20. RONI RAHMAT, S.Pd NIP. 198201092009041004
21. PURBA ZAINUDDIN AS, S.Pd NIP. 197802102009041003
22. ALIMATUSSAKDIAH, S.Pd NIP. 198305062009042003
23. FARHAN HIDAYAT, S.Pd NIP. 197811062009041001
24. ALI NURRAKHMAD SIREGAR, ST
25. ABDI NEGARA NAPITUPULU, ST
26. BATARA MULYA HARAHAP, ST
27. NOGI HANDEPI, S.Pd
28. NOVITA HARIYANI, ST
29. NANA OTRIANA ROSA, S.Sn
30. RAHIM, S.Pd
31. SUENDRI, ST
32. Drs. TUNGKET MUDA
33. ROBINSON
34. RAHMAT SALEH LUBIS
35. ROBIANA HARIANJA
36. MUZAMMIL, S.PD.I
37. MESRAWATI, S.Pd
38. IKHWAN JULIANDI, S.Pd
39. MANGAMAR PORTIBI, S.Pd
40. MAHYUNI HARAHAP, S.Pd
41. DEWI FAUZIAH HARAHAP, S.Pd
42. IRWAN EFENDI
43. RAHMAD HIDAYAH, S.Pd
44. LASMI ANI CHANDRA, S.Pd
45. HILDA HOLILA LUBIS, S.Pd
46. SAFWAN DAHRIL NASUTION, ST
47. ELI EZE RITONGA, ST
48. FARIDA HANUM
49. AHMAD SUPRIADI
50. FITRI RISKI ANNORA, S.Pd
51. MURNI ELIDA HSB, S.Pd

Menonton streaming via INDOWEB.TV


Setelah di acaknya siaran piala dunia 2010 di video streaming mivo.tv banyak orang yang mencari alternatif lain.

Indoweb.TV merupakan TV streaming yang bisa diakses secara gratis dengan tujuan untuk pendidikan dan hiburan semata. Stasiun TV yang bisa diakses pada Indoweb.TV, antara lain : RCTI, SCTV, TVONE, INDOSIAR, TRANSTV, TRANS7, DAAI, ANTV, TVRI, TPI, CTV, JakTV, Elshinta, Global TV, Metro TV, dan OChannel.

Syarat utama untuk bisa menonton TV pada indoweb.tv yakni anda terhubung dengan internet dengan bandwidth 384 kbps, mempunyai internet browser ( mozilla, internet exploler, dan sebagainya), dan telah terinstal plugin Flash Media Player versi terbaru.

Caranya untuk melihat TV cukup mudah, pertama anda menuju halaman web ini kemudian pilih channel yang diinginkan pada channel tv. Lalu Andapun bisa menyaksikan siaran bola kesebelasan kesayangan.

Untuk menonton siaran piala dunia 2010 live klik disini


SISWA/I BERPRESTASI SEMESTER GANJIL T.P 2011-2012

Peringatan Hari PGRI 25 Nopember 2011

Kunjungan Bupati Tapanuli Selatan

PROFIL 1